Komedi Dalam Berdialektika
Comedy dalam Berdialektika
Comedy sebenarnya dibutuhkan dimanapun dan kapanpun, entah itu untuk bersosialisasi, untuk selingan saat mengajar, bahkan tak jarang juga komedi digunakan sebagai pemecah keheningan. Namun tolak ukur yang bagaimana komedi itu diperbolehkan sehingga lawan bicara tidak merasa tersinggung dan sakit hati saat mendengar celetukan kita, dengan kata lain sampai batas mana kita boleh membawakan sebuah guyonan saat kita sedang berdialektika. Sebelum kita berbicara lebih jauh saya ingin menyamakan persepsi dulu bahwa batas dalam berkomedi itu bias, artinya batas antara satu individu dan individu lainnya bisa mengalami perbedaan yang signifikan. Individu A misalnya, mungkin ia merasa santai saja ketika bercanda seputar agama dengan temannya. Berbeda dg individu B yang merasa “Hei... it’s my religion, jangan dibecandain”. Sah-sah saja menurut hemat saya membuat pengkotak-kotakan dalam menentukan “oo... ini yang boleh dibecandain, oo... ini tidak boleh dan haram untuk dibecandain” yang jadi masalah adalah ketika setiap orang mempunyai Box sendiri dalam membuat batas, maka yang terjadi kita akan semakin kecil lingkupnya dalam berkomedi.
Saat ini, Indonesia sedang masa inkubasi dimana ketersinggungan menjadi sebuah trend, kadang-kadang karena hal ini banyak efek domino yang terjadi. Salah satunya orang-orang yang mengaku open minded menurut saya hanya benar-benar open minded terhadap orang-orang yang sepemikiran dengannya. Open minded darimana kalau kita sendiri belum bisa melihat sebuah permasalahan dari sisi luas yang artinya kebanyakan dari kita belum mampu untuk menerima sebuah komedi yang disuguhkan sebagai sebuah sarkasme yang realitanya benar-benar terjadi di sekitar kita.
Sama seperti musik bahwa komedi itu masalah selera, ada yang mencintai genre musik Jazz tak sedikit pula yang menyukai musik pop. Namun dibaik perbedaan itu dapat ditarik benang merah bahwa komedi dan musik menjadi sebuah obat bagi mereka yang menginginkan kebebasan berekspresi. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang...
Tidak bisa kita pungkiri bahwa bersosialisasi adalah bagian dalam kita hidup, dan salah satu kenikmatan dalam bersosialisasi ialah kita dapat menemukan pasangan yang sefrekuensi dengan kita, momen ketika kalian sedang masa mencari “He/she is the One” membuat otak kita berpikir seratus bahkan seribu kali untuk melakukan hal yang bisa membuat dia merasa nyaman. Komedi membuat semuanya menjadi lebih dekat dan intim, tidak percaya ? menurutmu mengapa 7 dari 10 wanita memilih pria yang humoris daripada pria yang hedonis. Karena mereka merasa lebih dekat dengan adanya komedi. Berapa kali kalimat wkwkwk singgah dalam obrolan whatsappmu yang sedang berjuang untuk mendapatkan hatinya , atau berapa hahaha yang berusaha kau dapatkan ketika kau masih terbaring diatas kasur, belum mandi, namun masih sangat setia menemaninya mengobrol hingga larut malam.
Lebih dari sekedar pendekatan intim, menurut hemat saya komedi sendiri sudah menjadi sebuah kebutuhan dasar manusia terutama dalam upaya pelarian diri menghadapi kerasnya hidup. Konten di media sosial sekarangpun mulai mengalami pergeseran dan penambahan substansi dari yang awalnya platform dalam memberi informasi menjadi sebuah platform yang memberi hiburan. Menurutmu mengapa mereka mulai menggeser fokusnya ? karena mereka tahu pasar komedi lebih luas, siapapun orangnya, berapapun usianya setiap orang membutuhkan hiburan. Lalu hiburan apakah yang akan terus laku dan mampu menjadi pesaing ketat dunia musik yang notabene memang sudah diakui semua orang, komedi datang dan mampu masuk di berbagai bidang, misalnya musik komedi, film komedi, video parody, bahkan konten gaming pun akan laku jika dibalut dengan komedi.
Industri melihat komedi menjadi sebuah peluang bisnis yang menggiurkan. Maka dari itu komedi lebih dari sekadar guyonan receh yang hanya mengundang tawa pendengarnya saja namun komedi juga mampu menjadi pelarian kita dalam mengekspresikan kebebasan berpendapat, akhir kata saya hendak berpesan "Berkomedilah sebelum komedi menjadi terbatas lingkupnya dan dilarang kehadirannya".
Komentar
Posting Komentar